Jumat, 24 Desember 2010
SLMATA DATANG TUHAN YESUS....TERIMA KASIH BUAT TUHAN YESUS""""
SLAMAT-2 DTG YESUS TUHANKU YANG TURUN DRI SORGA YANG RUMAHMU..SLMT2 DTG MURID DLM DUNIA ..JDI SAMA DGN MANUSIA SALAM2..ORANG MAJUS DTG TURUT BINTANGNYA HENDAK MENCARI YESUS DAN MENYEMBAH EMAS..KEMENYAAN DAM MUR DIBERSEMBAHKAN...HORMAT RAJA DAN JURUSLMATKU...SALAM...8X
Panitia Perayaan NATAL pertama yang terdiri para Malaikat menyebarkan undangan dengan berbagai cara. Satu tim pergi ke padang, tempat para gembala-gembala berkumpul menjaga kawanan dombanya ….. . Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Lukas 2:8-12.
Setelah para undangan tiba di tempat acara NATAL tersebut, mereka semuanya sujud menyembah. Para Majus memberikan persembahan NATAL berupa Emas, Perak, dan Kemenyan, suatu persembahan dari orang-orang kudus dan terhormat…. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
Matius 2:11.
Tempat acara NATAL tersebut sangat sempit, sangat sederhana, dan Pribadi yang dirayakan kelahiran-Nya juga hanya di baringkan di tempat makanan hewan ( palungan ), maklum lokasi NATAl pertama ini hanyalah sebuah kandang domba. Itulah sebabnya para undangan antri untuk dating sujud menyembah Sang Raja yang baru lahir itu……… Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan Lukas 2:6,7.
Saudaraku….. ternyata kemewahan akan sangat jelas terlihat pada saat di pertemukan dengan kesederhanaan. Dan kesederhanaan akan sangat jelas terlihat saat di padukan dengan kemewahan . KRISTUS adalah TUHAN ( AGUNG- MEWAH ), tetapi bersedia menjadi manusia yang paling sederhana ( lahir di kandang yang hina- sederhana ) . Dan lihatlah ….Kemuliaan-Nya bersinar gilang-gemilan. Luar biasa!
Matius 2:11.
Tempat acara NATAL tersebut sangat sempit, sangat sederhana, dan Pribadi yang dirayakan kelahiran-Nya juga hanya di baringkan di tempat makanan hewan ( palungan ), maklum lokasi NATAl pertama ini hanyalah sebuah kandang domba. Itulah sebabnya para undangan antri untuk dating sujud menyembah Sang Raja yang baru lahir itu……… Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan Lukas 2:6,7.
Saudaraku….. ternyata kemewahan akan sangat jelas terlihat pada saat di pertemukan dengan kesederhanaan. Dan kesederhanaan akan sangat jelas terlihat saat di padukan dengan kemewahan . KRISTUS adalah TUHAN ( AGUNG- MEWAH ), tetapi bersedia menjadi manusia yang paling sederhana ( lahir di kandang yang hina- sederhana ) . Dan lihatlah ….Kemuliaan-Nya bersinar gilang-gemilan. Luar biasa!
Selasa, 21 Desember 2010
Profil Daerah Kabupaten Yahukimo Kabupaten Yahukimo wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Jayapura di sebelah utara, Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Asmat di sebelah selatan, Kabupaten Jayawijaya di sebelah barat dan Kabupaten Pegunungan Bintang di sebelah timur. Secara administratif, kabupaten ini terbagi menjadi 3 kecamatan dengan Sumohai sebagai ibukota kabupaten. Yahukimo beriklim tropis basah ... Selengkapnya »
yahukimo nang danesa weee ......
INILAH KADER2 MASA DEPAN YAHUKIMO"""PAMONG PRAJA....SEKOLAH TINGGI ILU PEMERINTAHAN ABDI NEGARA Profil Daerah Kabupaten Yahukimo
Kabupaten Yahukimo wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Jayapura di sebelah utara, Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Asmat di sebelah selatan, Kabupaten Jayawijaya di sebelah barat dan Kabupaten Pegunungan Bintang di sebelah timur. Secara administratif, kabupaten ini terbagi menjadi 3 kecamatan dengan Sumohai sebagai ibukota kabupaten.
Yahukimo beriklim tropis basah ...
- Sesiapa sahaja yang melihat burung Cenderawasih, maka tidak terkiralah gembira dihati dan perasaannya "
- Kelebihan bagi pemakainya ialah sebagai penyeri muka, orang suka berurusan dengan anda, perubatan.
- Pendinding dari perbuatan khianat dan sihir seperti ilmu santau, pukau dan juga ilmu hitam.
- Telah dimasukkan dengan kalimah serta ayat-ayat Al-Quran seperti surah AL-Fatihah dan AL- Kursi.
- Jangan dilangkah
- Boleh dibawa ke dalam tandas.( tiada syarat )
Kisah orang muda yang bersedih setelah bertemu Yesus. Biasanya orang akan bersukacita jika telah berjumpa dengan Yesus. Tetapi dalam kisah ini, setelah berjumpa Yesus ia malah bersedih. Mengapa? Ada hal yang tidak dapat ia penuhi. Ia harus menjual seluruh miliknya dan membagikannya kepada orang miskin. Ada rasa berat hati saat harus melepaskan kenikmatan hidup dan mengikut Yesus. Harta hanyalah salah satu contoh saja.
Sahabat, kita juga terkadang tidak menyadari.. Kita merasa bahwa semua sudah kita lakukan, kita sudah menuruti semua aturan yang diberikan. Tetapi satu hal yang tidak dapat kita lakukan, melepaskan keterikatan kita dan kecintaan PADA SESUATU yang membuat kita tanpa sadar menempatkan Tuhan Yesus pada posisi kedua. Hari ini kita diingatkan kembali untuk membenahi diri. Mengikut Yesus dengan sungguh berarti melepaskan keterikatan yang membuat hati kita jauh dari Tuhan. Yang membuat kita melakukan segala sesuatu untuk Tuhan hanya sebagai kegiatan agamawi belaka, tanpa ada kedekatan hubungan intim dengan Yesus. Yesus adalah sebuah pribadi yang ingin mengadakan hubungan sangat intim dengan kita.
Milikilah sukacita saat kita datang pada-NYA. Dengan mengikuti segala perintahNYA, berjalan dalam segala aturanNYA, TERLEBIH LAGI MENEMPATKAN DIA MENJADI YANG UTAMA DALAM HATI KITA. JANGAN SAMPAI KITA BERSEDIH SETELAH BERTEMU YESUS. Amin.
Sahabat, kita juga terkadang tidak menyadari.. Kita merasa bahwa semua sudah kita lakukan, kita sudah menuruti semua aturan yang diberikan. Tetapi satu hal yang tidak dapat kita lakukan, melepaskan keterikatan kita dan kecintaan PADA SESUATU yang membuat kita tanpa sadar menempatkan Tuhan Yesus pada posisi kedua. Hari ini kita diingatkan kembali untuk membenahi diri. Mengikut Yesus dengan sungguh berarti melepaskan keterikatan yang membuat hati kita jauh dari Tuhan. Yang membuat kita melakukan segala sesuatu untuk Tuhan hanya sebagai kegiatan agamawi belaka, tanpa ada kedekatan hubungan intim dengan Yesus. Yesus adalah sebuah pribadi yang ingin mengadakan hubungan sangat intim dengan kita.
Milikilah sukacita saat kita datang pada-NYA. Dengan mengikuti segala perintahNYA, berjalan dalam segala aturanNYA, TERLEBIH LAGI MENEMPATKAN DIA MENJADI YANG UTAMA DALAM HATI KITA. JANGAN SAMPAI KITA BERSEDIH SETELAH BERTEMU YESUS. Amin.
YESUSKU PENYELAMATKU TAKKAN MENINGGALKAN AKU
MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU .KASIH KARUNIA TUHAN YESUS KRISTUS MENYERTAI KITA SAMPAI SELAMA-LAMANYA. DALAM MENGIRING KRISTUS SEMAKIN DIBERI KEKUATAN, SEMANGAT, DAN MAKIN DEWASA DI TAHUN MENDATANG. SERTA SEMAKIN SETIA MENANTIKAN KEDATANGAN-NYA KELAK. GOD BLESS
MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU .KASIH KARUNIA TUHAN YESUS KRISTUS MENYERTAI KITA SAMPAI SELAMA-LAMANYA. DALAM MENGIRING KRISTUS SEMAKIN DIBERI KEKUATAN, SEMANGAT, DAN MAKIN DEWASA DI TAHUN MENDATANG. SERTA SEMAKIN SETIA MENANTIKAN KEDATANGAN-NYA KELAK. GOD BLESS
Senin, 20 Desember 2010
Masalah Utama Kegagalan Pembangunan di Papua
Masalah Utama Kegagalan Pembangunan di Papua
Jika kita melihat kembali akar permasalahan di Papua maka secara substansial adalah masalah kemerdekaan, baik persoalan kemerdekaan secara politis maupun juga merdeka dari 5 K (Kemiskinan, Kebodohan, Keterbelakangan, Ketelanjangan dan Kemerosotan moral). Kedua persoalan ini menjadi penyebab utama kegagalan pembangunan di Papua selama hampir 40 tahun sejak berintegrasi.
Pertama, Persoalan kemerdekaan politik (trauma historisme), Konflik politik di Papua ini tidak begitu jatuh dari langit, ada akar historisnya dan akar historis tersebut tidak jarang bermula dari sejarah kolonialisme. Karena itu persoalan Papua pun bermula dari sejarah kolonialisme yakni ketika hadirnya kolonialis Belanda dan imperialis Indonesia (dianggap). Integrasi politik atas wilayah ini hingga kini masih belum mantap. Hal ini disebabkan karena klaim Indonesia dan Belanda baik melalui jalur diplomasi maupun juga konfrontasi dipenuhi dengan sikap kooporatif antar penguasa -demi kepentingan pembendungan ideologi komunisme internasional- yang tidak simpatik di lubuk hati orang Papua. Tidak pernah melibatkan rakyat Papua dalam proses integrasi politik, dari setiap perundingan rakyat Papua bertindak sebagai objek, bukan sebagai subjek dalam pengambilan keputusan. Lebih ironis lagi pelanggaran terhadap hak menetukan nasib sendiri bagi suatu bangsa (GA Resolution No 1541 (XV)) tahun 1960, dimana pada waktu yang bersamaan di Papua Barat telah menyatakan deklarasi kemerdekaan dan sosialisasi simbol-simbol kebangsaan. Disamping itu konsensus politik 1969 yang disebut PEPERA , dilaksanakan dibawah tekanan Indonesia, termasuk pelaksanaan dengan sistem demokrasi yang dianut berdasarkan Pancasila yakni musyawarah mufakat yang berbeda dengan standar internasional (one man one vote) sesuai New York Agreement. Alasan Indonesia bahwa penyelenggaraan musyawarah mufakat adalah karena kondisi sosial, ekonomi, geografis dan peradabaan hidup primitif, hal ini merupakan pengingkaran terhadap Resolusi Majelis Umum PBB 14 Desember 1960 (GA Resolution No. 1514 (XV) yang menegaskan bahwa penjajahan dengan segala bentuk manifestasinya harus diakhiri sehingga alasan dengan belum adanya kesiapan dari kondisi politik, ekonomi atau sosial bukanlah alasan ditundanya kemerdekaan bagi sebuah bangsa. Ekspresi kekecewaan atas pelaksanaan itu, muncullah ancaman serius dari kelompok yang bernama Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sejak itu pemerintah Jakarta mulai memantapkan labilitas integrasi politik dengan menempatkan orang Papua di dalam kubangan hegemoni korporatisme negara , rakyat disekrin, dipaksa tandatangani, diinstruksi, tidak boleh ini harus begitu dan seterusnya dan seterusnya, praktik teror oleh klik-klik misterius agar menerima, menghormati, taat dan tunduk pada simbol-simbol negara-kebangsaan (nation-state). Rakyat diliputi rasa ketakutan totaliter. Karena itulah sepanjangh berintegrasi dengan Indonesia, rakyat berontak melalui berbagai aksi kerusuhan, pengrusakan, pembunuhan, penyanderaan yang semuanya ini objek/sasarannya adalah kepada masyarakat pendatang (orang luar Papua) yang merupakan bagian integral dari sistem politik bangsa Indonesia, orang sawo matang, orang bule. Hal ini merupakan ekspresi rasa kekecewaan dan ungkapan kebencian dari trauma historisme daan sejarah penderitaan bangsa Papua (the history of sadness) terhadap pemerintah negara-kebangsan Indonesia.
Kedua, Persoalan Kemerdekaan Sosial Ekonomi (Disparitas Ekonomi dan Sosial. Tidak dapat disangkal bahwa rakyat Papua kaya akan sumber daya alam yang tiada tara nilainya, namun sesungguhnya mereka adalah yang termiskin di abad ini. Indonesia sudah mulai menentukan tolak ukur kemiskinannya dengan kain kebaya namun orang Papua (gunung) sedang berada dalam ketelanjangan dan keterisolasian (The stone age period society in 21t century) masyarakat jaman batu di abad ke dua puluh satu. Itu salah siapa? Mengapa mereka diintegrasikan kalau Jakarta tidak ingin membangun mereka? Dunia telah mengetahui bahwa manusia jaman batu itu ada di bumi Papua dan Papua adalah INDONESIA. Sejak awal integrasi, pemerintah Jakarta memfokuskan perhatian pada pembangunan ekonomi dan sosial. pembangunan sosial ekonomi dilaksanakan secara politis. Sejak tahun 1963-1969 dimasa transisi ada nuansa pembangunan seperti pendirian sekolah-sekolah, dari TK hingga perguruan Tinggi (Universitas Cendrawasih), pembangunan sarana pra sarana infrastuktur, pengembangan sumber daya manusia dengan menempatkan elit-elit terdidik Papua di pos-pos pemerintahan. Bahkan Gubernurnya diberikan kepada putra asli Papua yang tidak pernah orang Papua merasakan pada jaman Belanda. Namun seluruh kebijakan sosial ekonomi dikendalikan oleh militer dengan adagium binomialnya yakni Keamanan dan Pembangunan. Militer menjadi panglima dalam seluruh pengambilan keputusan akhir, pembangunan dengan program Task forces dengan bantuan dana Fundwi dan ADB namun dana tersebut dialokasikan ke dana pertahanan dan keamanan, sehingga dana pembangunan sosial ekonomi sesungguhnya diabaikan. Karena itu tidak mengherankan sampai pada tahun 1996 77% desa di Irian Jaya berada dibawah garis kemiskinan dan menjadi desa binaan program IDT dan pada tahun 2005 hampir 85 persen penduduk Papua miskin. Sebagian besar orang Papua adalah bertani dan sayangnya sebagian tanah pertanian telah dikaplingkan oleh para penguasa misalnya pertanian seluas 8,65%, pemukiman penduduk 3,36%, sarana sosial budaya sebesar 1,75 %, Transmigrasi seluas 0,55% sedangkan penggunaan tanah untuk keperluan lainnya kurang dari 1%. Dengan demikian sebagian besar tanah di Papua dimiliki oleh negara seluas 1.528.277 ha 993,36%) sehingga rakyat mengalami kesulitan mencari tempat tinggal yang baik dengan pemukiman yang basah karena itu dikawatirkan masa depan anak cucu yang akan merana diatas tanahnya sendiri. Disamping itu pembukaan industrialisasi dengan mengandalkan pada penggunaan teknologi canggih yang tidak dapat dipenuhi oleh masyarakat lokal, pengiriman tenaga trampil dari luar dengan mengesampingkan tenaga kerja lokal dibarengi pemberian kompensasi yang lebih kecil dari seharusnya menjadi pemicu kesenjangan teritama PT. Freeport Indonesia. Implikasinya adalah pemerintah mengabaikan pembangunan sosial ekonomi dengan pertimbangan orang Papua tetap berada pada kondisi stagnan agar dikemudian hari terjadi perubahan jumlah populasi antara lain; tingkat harapan hidup diperpendek, tinggkat pertumbuhan diperlambat, angka kematian bertambah, epidemi penyakit meraja lela, menuju uniformitas etnik, kultural, kesenian, termasuk sistem sosial budayanya maka adagiun menjadi legenda dan imajinasi di abad ke 20 yang berlalu.
Jika kita melihat kembali akar permasalahan di Papua maka secara substansial adalah masalah kemerdekaan, baik persoalan kemerdekaan secara politis maupun juga merdeka dari 5 K (Kemiskinan, Kebodohan, Keterbelakangan, Ketelanjangan dan Kemerosotan moral). Kedua persoalan ini menjadi penyebab utama kegagalan pembangunan di Papua selama hampir 40 tahun sejak berintegrasi.
Pertama, Persoalan kemerdekaan politik (trauma historisme), Konflik politik di Papua ini tidak begitu jatuh dari langit, ada akar historisnya dan akar historis tersebut tidak jarang bermula dari sejarah kolonialisme. Karena itu persoalan Papua pun bermula dari sejarah kolonialisme yakni ketika hadirnya kolonialis Belanda dan imperialis Indonesia (dianggap). Integrasi politik atas wilayah ini hingga kini masih belum mantap. Hal ini disebabkan karena klaim Indonesia dan Belanda baik melalui jalur diplomasi maupun juga konfrontasi dipenuhi dengan sikap kooporatif antar penguasa -demi kepentingan pembendungan ideologi komunisme internasional- yang tidak simpatik di lubuk hati orang Papua. Tidak pernah melibatkan rakyat Papua dalam proses integrasi politik, dari setiap perundingan rakyat Papua bertindak sebagai objek, bukan sebagai subjek dalam pengambilan keputusan. Lebih ironis lagi pelanggaran terhadap hak menetukan nasib sendiri bagi suatu bangsa (GA Resolution No 1541 (XV)) tahun 1960, dimana pada waktu yang bersamaan di Papua Barat telah menyatakan deklarasi kemerdekaan dan sosialisasi simbol-simbol kebangsaan. Disamping itu konsensus politik 1969 yang disebut PEPERA , dilaksanakan dibawah tekanan Indonesia, termasuk pelaksanaan dengan sistem demokrasi yang dianut berdasarkan Pancasila yakni musyawarah mufakat yang berbeda dengan standar internasional (one man one vote) sesuai New York Agreement. Alasan Indonesia bahwa penyelenggaraan musyawarah mufakat adalah karena kondisi sosial, ekonomi, geografis dan peradabaan hidup primitif, hal ini merupakan pengingkaran terhadap Resolusi Majelis Umum PBB 14 Desember 1960 (GA Resolution No. 1514 (XV) yang menegaskan bahwa penjajahan dengan segala bentuk manifestasinya harus diakhiri sehingga alasan dengan belum adanya kesiapan dari kondisi politik, ekonomi atau sosial bukanlah alasan ditundanya kemerdekaan bagi sebuah bangsa. Ekspresi kekecewaan atas pelaksanaan itu, muncullah ancaman serius dari kelompok yang bernama Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sejak itu pemerintah Jakarta mulai memantapkan labilitas integrasi politik dengan menempatkan orang Papua di dalam kubangan hegemoni korporatisme negara , rakyat disekrin, dipaksa tandatangani, diinstruksi, tidak boleh ini harus begitu dan seterusnya dan seterusnya, praktik teror oleh klik-klik misterius agar menerima, menghormati, taat dan tunduk pada simbol-simbol negara-kebangsaan (nation-state). Rakyat diliputi rasa ketakutan totaliter. Karena itulah sepanjangh berintegrasi dengan Indonesia, rakyat berontak melalui berbagai aksi kerusuhan, pengrusakan, pembunuhan, penyanderaan yang semuanya ini objek/sasarannya adalah kepada masyarakat pendatang (orang luar Papua) yang merupakan bagian integral dari sistem politik bangsa Indonesia, orang sawo matang, orang bule. Hal ini merupakan ekspresi rasa kekecewaan dan ungkapan kebencian dari trauma historisme daan sejarah penderitaan bangsa Papua (the history of sadness) terhadap pemerintah negara-kebangsan Indonesia.
Kedua, Persoalan Kemerdekaan Sosial Ekonomi (Disparitas Ekonomi dan Sosial. Tidak dapat disangkal bahwa rakyat Papua kaya akan sumber daya alam yang tiada tara nilainya, namun sesungguhnya mereka adalah yang termiskin di abad ini. Indonesia sudah mulai menentukan tolak ukur kemiskinannya dengan kain kebaya namun orang Papua (gunung) sedang berada dalam ketelanjangan dan keterisolasian (The stone age period society in 21t century) masyarakat jaman batu di abad ke dua puluh satu. Itu salah siapa? Mengapa mereka diintegrasikan kalau Jakarta tidak ingin membangun mereka? Dunia telah mengetahui bahwa manusia jaman batu itu ada di bumi Papua dan Papua adalah INDONESIA. Sejak awal integrasi, pemerintah Jakarta memfokuskan perhatian pada pembangunan ekonomi dan sosial. pembangunan sosial ekonomi dilaksanakan secara politis. Sejak tahun 1963-1969 dimasa transisi ada nuansa pembangunan seperti pendirian sekolah-sekolah, dari TK hingga perguruan Tinggi (Universitas Cendrawasih), pembangunan sarana pra sarana infrastuktur, pengembangan sumber daya manusia dengan menempatkan elit-elit terdidik Papua di pos-pos pemerintahan. Bahkan Gubernurnya diberikan kepada putra asli Papua yang tidak pernah orang Papua merasakan pada jaman Belanda. Namun seluruh kebijakan sosial ekonomi dikendalikan oleh militer dengan adagium binomialnya yakni Keamanan dan Pembangunan. Militer menjadi panglima dalam seluruh pengambilan keputusan akhir, pembangunan dengan program Task forces dengan bantuan dana Fundwi dan ADB namun dana tersebut dialokasikan ke dana pertahanan dan keamanan, sehingga dana pembangunan sosial ekonomi sesungguhnya diabaikan. Karena itu tidak mengherankan sampai pada tahun 1996 77% desa di Irian Jaya berada dibawah garis kemiskinan dan menjadi desa binaan program IDT dan pada tahun 2005 hampir 85 persen penduduk Papua miskin. Sebagian besar orang Papua adalah bertani dan sayangnya sebagian tanah pertanian telah dikaplingkan oleh para penguasa misalnya pertanian seluas 8,65%, pemukiman penduduk 3,36%, sarana sosial budaya sebesar 1,75 %, Transmigrasi seluas 0,55% sedangkan penggunaan tanah untuk keperluan lainnya kurang dari 1%. Dengan demikian sebagian besar tanah di Papua dimiliki oleh negara seluas 1.528.277 ha 993,36%) sehingga rakyat mengalami kesulitan mencari tempat tinggal yang baik dengan pemukiman yang basah karena itu dikawatirkan masa depan anak cucu yang akan merana diatas tanahnya sendiri. Disamping itu pembukaan industrialisasi dengan mengandalkan pada penggunaan teknologi canggih yang tidak dapat dipenuhi oleh masyarakat lokal, pengiriman tenaga trampil dari luar dengan mengesampingkan tenaga kerja lokal dibarengi pemberian kompensasi yang lebih kecil dari seharusnya menjadi pemicu kesenjangan teritama PT. Freeport Indonesia. Implikasinya adalah pemerintah mengabaikan pembangunan sosial ekonomi dengan pertimbangan orang Papua tetap berada pada kondisi stagnan agar dikemudian hari terjadi perubahan jumlah populasi antara lain; tingkat harapan hidup diperpendek, tinggkat pertumbuhan diperlambat, angka kematian bertambah, epidemi penyakit meraja lela, menuju uniformitas etnik, kultural, kesenian, termasuk sistem sosial budayanya maka adagiun menjadi legenda dan imajinasi di abad ke 20 yang berlalu.
Langganan:
Postingan (Atom)











